Jumat, 21 Desember 2007

Selamat tinggal biro Makassar

Teman-teman malam ini aku dipromosikan menduduki jabatan Litbang.
Yah... itulah sebagian tuliasan yang masuk di pesan singkat pada telepon celularku, dan tulisan itu tentunya aku tahu betul dari siapa.

Pada lanjutan ditulisan tersebut, sang pengirim sms kembali menggugah perasaan dalam hati ini dimana tertulis terima kasih atas kerjasama tim yang telah kita bangun selama tiga tahun ini.

Perasaan sedih akan kehilangan seorang pemimpin, yang selama ini telah aku anggap sebagai seorang teman, saudara bahkan lebih, yang selama ini banyak memberikan masukan, pencerahan kalbu, serta banyak lagi pengalaman yang telah engkau berikan kepada kami semua, di kantor biro Metro tv Makassar.

Begitu banyak suka duka yang telah kita lalui, selama engkau menahkodai kantor ini, terkadang kami membuat perasaanmu hancur, namun terkadang pula perlakuanmu membuat kami menjadi kesal, namun semua itu tentunya makin membuat kita semakin dekat layaknya saudara.

Begitu berartinya kehadiranmu dan begitu besar pula arti pengalaman hidup yang telah engkau berikan, walaupun pada akhirnya kita akan berpisah, namun kuyakin perpisahan ini tidak akan membuat kita semakin jauh apalagi engkau akan menjauhi kami semua.

Kabul Indrawan
Masih teringat jelas dalam ingatanku disaat engkau mengingatkan aku akan arti sebuah kesabaran dalam menjalani cobaan hidup, disaat aku tak kuat lagi menghadapi cobaan yang terus menimpaku.

Kala itu engkau mengingatkan aku akan bersabar menghadapi cobaan tuhan, di kala aku berjalan diluar rel yang telah ditetapkan Allah sang pencipta.

Akupun mengingat akan kebaikan dan perlakuan baikmu yang selama ini telah engkau berikan kepada kami semua, kalaupun aku harus menangisi perpisahan itu, bukan berarti diri ini cengeng, namun terus terang hati kecilku berkata begitu berartinya engkau dalam hidup ini, hingga aku harus mengeluarkan air mata saat aku membaca pesan singkat perpisahan itu, dan seandainya diri ini harus memilih.

Yahh.. mungkin akan kukatakan kepada Tuhan. Janganlah ada perpisahan diantara kami, karena engkau sangatlah berarti dalam hidup ini.

Makassar dalam penantian
Terkadang kita baru menyadari betapa pentingnya arti akan kehadiran seseorang, di saat orang tersebut telah pergi meninggalkan kita, dan terkadang pula kerinduan itu datang di saat kita baru mengingat akan kenangan atau masa-masa terindah yang pernah kita lalui bersama orang yang paling dekat dengan kita.

Slamta tinggal sang pemimpin semoga tempat barumu nanti dapat memberikan engkau ketenagan dan kesuksesan dalam meniti karirmu

Selasa, 18 Desember 2007

jurnalis vs wartawan di korupsi PDAM

Kasus korupsi PDAM.
Sebagian besar wartawan dikota makassar tentunya merinding mendengar kasus tersebut, karena kasus korupsi ini(korupsi berjamaah), diduga juga ikut melibatkan sebagian besar wartawan media lokal dan nasional yang bertugas dikota makassar. yang katanya berdasarkan data temuan dari KPK. dan saat ini lagi ditindak lanjuti oleh kejati sul-sel.

AJI.
Akupun sempat kaget saat mendengar berita jika kasus korupsi di tempat mengalirnya air bersih atau PDAM itu, ternyata juga melibatkan anggota atau pengurus asosiasi jurnalis independen "katanya"

Betulkah sebelas orang wartawan itu ikut terlibat korupsi berjamaah bersama dengan oknum pejabat?

Betulkah mereka yang terlibat itu adalah anggota atau pengurus AJI?

Bukankah selama ini organisasi yang menaungi sebagian kecil wartawan di indonesia yang mengklaim dirinya adalah oraganisasi wartawan independen (AJI). yang paling getol meneriakan wartawan jangan terima amplop

Namun jika betul mereka ikut terlibat memakan uang korupsi di PDAM kota makassar, itu berarti slogan wartawan anti amplop, tak berlaku dan baiknya diganti saja dengan wartawan dilarang terimah amplop, kecuali isinya atau melalui rekening saja. bukan begitu kawan?

Salah seorang rekan saya yaitu upi asmarahdana, sempat teriak bahkan melakukan aksi tunggal, pada tanggal 15 desember 2007 lalu. aksi "one man show" ini, terlihat tanpa didukung oleh rekan-rekan mereka sesama anggota AJI, namun upi. seolah tidak mau tahu apakah aksinya itu didukung atau tidak.

Jika saya amati pesan dalam aksi upi ini, hanya ingin menyampaikan ke pablik, bahwa aksinya itu murni untuk kelangsungan AJI yang akan datang dimana anggota dan pengurus AJI, haruslah berkomitmen bersih dan membersihkan diri dari kong kalikong dengan pejabat pemerintahan alis dilarang terimah amplop. yah... begitulah mungkin makna dari aksi tersebut

Saya tidak mendukung siapa dan siapa, karena saya sendiri bukanlah anggota AJI. namun mereka semua adalah teman baik, termasuk upi dan mereka kesebelas orang yang diduga ikut terlibat dalam kasus korupsi di (PDAM) Kota Makassar.

Akupun tidak mau tahu tentang siapa yang benar diantara mereka, namun aku hanyalah bertanya didalam hati ini, sebegitu bobroknya-kah mental sebagian kecil jurnalis di kota makassar ini?.

Jika saja kasus PDAM itu benar melibatkan para wartawan apalagi anggota dan pengurus AJI kota makassar, maka itu sama saja dengan kata pepatah maling teriak maling. karena selama ini AJI dikenal paling getol meneriakkan wartawan jangan terimah amplop

Jurnalis kelabu dilangit makassar
tulisan ini bukan untuk menyinggung siapa-siapa, apalagi organisasi. namun tulisan ini hanyalah ungkapan hati atas terjadinya perseteruan antara sesama wartawan.

Sekedar mengingatkan kawan, janganlah pernah merasa bersih dari siapapun, jika kita sendiri tidaklah suci dimata tuhan

Jika perseteruan ini tidaklah murni untuk kepentingan organisasi, atau hanya dilandasi kepentingan atau rasa dendam pribadi semata, maka kusarankan akhirilah perseteruan itu kawan.

Namun jika benar perjuanganmu itu untuk sebuah kebenaran dan kepentingan orang banyak, maka lanjutkan perjuanganmu itu, karena kebenaran itu hanyalah dapat diraih dengan sebuah perjuangan bro...

Menghargai alam dari suatu perkampungan dipegunungan

Desa bungllo. salah satu perkampungan yang letaknya berada diatas pegunungan di kecamatan bastem. kabupaten luwu. sulawesi selatan.

Untuk mencapai desa tersebut kita harus menelusuri medan yang sangat berat, dengan melewati jurang yang sangat terjal yang intinya desa tersebut sangatlah jauh dari yang namanya peradaban.

Namun Keramahan penduduk desa serta ketenagan kampung ini, tentunya membuat aku dan beberapa orang teman sesama jurnalis lokal maupun nasional yang datang mengunjungi kampung ini, menjadi kagum.

Penduduk yang bermukim di perkampungan ini jumlahnya-pun tidaklah banyak, namun mereka sangatlah mengutamakan tata krama dalam menyambut setiap orang yang datang berkunjung kekampung ini.

Dikampung inilah aku dan teman - temanku melihat para siswa siswi sekolah dasar yang berada di perkampungan ini. pergi bersekolah tanpa menggunakan alas kaki. namun itu bukanlah menjadi soal bagi mereka yang penting mereka dapat belajar

Dikampung ini pulahlah kumenyaksikan pemandangan yang begitu indah serta sejuknya udara pegunungan tanpa polusi dan jauh dari kebisingan kota.

Yang kami jumpai di perkampungan ini hanyalah suara kicauan burung serta berbagai bebunyian yang kami dengar dari balik rindangnya dedaunan pepohonan.

Aku suatu siang aku bersama rekan rekan sesama jurnalis dan pengurus elsim kota makassar. mencoba bercengkerama dengan penduduk kampung dimana mereka terlihat senang saat diabadikan dengan kamera poket.

Begitupun dengan para siswa sekolah dasar. mereka terlihat senang saat aku dan beberap orang rekanku mencoba bergabung, alis sok akrab dengan mereka sambil bermain bola dihalaman gedung sekolah, yang masih berdinding kayu serta berlantaikan tanah, dimana meja dan korsinya terlihat berantakan.

Keceriaan para siswa siswi sekolah dasar bongllo, sangat terlihat dari raut wajah mereka saat kami mengabadikan lewat kamera dan mereka seolah berkata fotoka lagi.

Walaupun sebagian dari murid itu ada yang masih mengeluarkan ingus dan raut muka awut-awutan layaknya anak kampung, namun mereka seolah tidak mau tahu tentang itu. bagi mereka gaya bukanlah hal yang terpenting, seperti halnya anak-anak yang berada di perkotaan yang lebih mengutamakan gaya dibanding otak

Kembali akau teringat akan masa kecilku dimana akupun pernah merasakan hidup ditengah perkampungan yang dikatakan oleh orang modern, kampung jauh dari peradaban. namun itulah realita yang mereka jalani, seperti halnya saat aku kecil dulunya juga aku jalani

Aku sempat merasakan perkataan hati kecil dari sebagian anak-anak itu, yang tentunya mereka juga ingin seperti kami-kami yang datang dari perkotaan dengan sok modern. namun tentunya kami bukanlah bagian orang modern yang seperti mereka pikirkan

Kami mendatangi perkampungan mereka tentunya mempunyai misi yang nantinya mengajarkan mereka untuk menghargai yang namanya hutan, menghindari ilegal loging, serta menolak yang namanya pertambangan yang rencananya akan berdiri di desa mereka.

Dimana nantinya jika pertambangan emas itu akan terwujud, maka tentunya mereka jualah yang menjadi korban dari pengerusakan hutan, dan tidak menutup kemungkinan nantinya desa mereka akan hilang tergusur oleh para perusahaan pertambangan. hanya untuk kepentingan sebagian orang atau pejabat saja

Bastem akan selalu kukenang dalam perjalanan jurnalisku
janganlah pernah mau merusak alam, karena alam ini diciptakan untuk menjaga keseimabangan serta membuatmu selalu mengerti akan kebesaran sang pencipta

NYODOK OLAH RAGA DAN HOBY

Billyard.
permainan yang dulunya aku sangat tidak senagi ini, kini akhirnya menarik sebagian waktuku. dalam beberapa bulan terakhir ini aku sangat sering menghabiskan sebagian waktuku bermain billyard atau nyodok

Mengapa aku suka nyodok?
suatu saat teman mengajaku untuk bermain billyard. akupun mencoba ikut bersama teman dan pada akhirnya aku mulai tertarik dengan permainan tersebut, selain mengajarkan aku untuk teliti dalam hal berhitung persegi guna memasukan bola kedalam enam lubang.

Dipermainan billyar tersebut juga kudapatkan naluri bagai mana caranya memasukan bola dengan cantik kedalam lubang dengan memantulkan bola, selain itu selalu saja egoku muncul untuk mengalahkan teman bermain. sebagai kepuasan tersendiri yang aku dapatkan.

Diarena billyard juga aku bisa menemukan sesuatu yang takmungkin aku dapatkan di dunia lain atau pada olahraga lain.

Bagiku bermain billyard itu adalah olah raga sekalian hoby yang mungkin saat ini dapat memberikan aku kepuasan dalam hatiku, maka itulah alasan kenapa aku kini menyukai permainan tersebut

Walaupun aku belum begitu pandai bermain billyard, namun diri ini mencoba untuk terus belajar dan belajar agar kelak akau dapat mengalahkan semua lawan-lawanku dimeja billyard.

Namun aku nga mau meja billyard kujadikan sebagai tempat untuk berjudi, karena aku paling pantangan yang namanya berjudi. ok bro......

Makassar. nyodok berakhir anarkis
terkadang sesuatu yang kita sukai itu belum tentu disukai oleh orang lain, namun janganlah pernah mencelah sesuatu yang disenangi orang. karena belum tentu benar bagi kita namun juga betul bagi orang, belajarlah untuk saling mengerti dan menghargai sesuatu yang berbeda(perbedaan itu indah jika kita mau melihat dari sisi positifnya)