Jumat, 19 Oktober 2007

kamuflase

Amerika" negara yang memproklamirkan dirinya sebagai negara adikuasa, yang paling getol meneriakan lawan dan habisi teroris, serta menentang adanya pelanggaran HAM.

Tetapi ternyata teriakan dan slogan – slogan anti teroris serta berdalil memperjuangkan hak asasi manusia, tidak lebih dari sebuah kamuflase semata.

Terbukti jika negara yang dinahkodai oleh george w bush itu. Tidak lebih dari sebuah negara penghancur peradaban dunia.
Sejarah mencatat, bumi hangusnya Hirosima dan Nagasaki. Akibat serangan bom nuklir yang diciptakan oleh profesor – profesor yahudi yang dimiliki negara paman sam tersebut.

Bahkan masih banyak lagi daftar dosa yang telah dilakukan negara yang mengklaim dirinya sebagai polisi dunia, terhadap perjalanan buram sejara dunia ini.

Jelas masih tertanam dalam ingatan kita bangaimana sengsaranya warga vietnam, yang hanya menggunakan peralatan dan persenjataan seadanya, dipaksa menghadapi ribuan bahkan jutaan tentara Amerika yang diperlengkapi senjata otomatis moderen dan didukung dengan armada tank serta pesawat tempur.

Demikian halnya yang terjadi di irak, hanya karena kepentingan politik dan bisnis ladang minyak. Amerika serikat kembali berkamuflase melalui media massa, bahwa presiden saddam. Harus ditangkap dan diadili kerena selama kepemimpinanya telah melakukan pelanggar HAM terbesar didunia.

Dengan perhitungan dan kalkulasi yang sangat matang tentang keuntungan yang akan diperolehnya dari hasil meruntuhkan rezim saddam husen. Maka negara pecundang ini mengibarkan bendera perang terhadap irak. negara yang kaya akan minyak itu

Kitapun melihat hasilnya lewat tayangan televisi dan membaca tulisan para jurnalis dimedia cetak. Dari penyerangan secara keroyokan yang dilakukan negara pecundang yang memiliki hak veto ini, tentunya bukan saja meruntuhkan rezim saddam husen.

Tetapi juga telah membumi hanguskan negara yang mempunyai gelar negeri seribuh satu malam itu, bahkan tidak sedikit nyawah warga irak melayang, akibat terkena serpihan bom serta tajamnya peluru yang dimuntahkan dari laras senjata – senjata canggih milik amerika dan negara – negara pecundang lainya yang mendapat legitimasi sebagai tentara pasukan multi nasional

Berdalil anti teroris, Amerika serikat. kembali membuat daftar dosa baru dengan mengobrak abrik Afganistan. Yang menurut persi Mr. Bush. Bahwa jaringan teroris yang selama ini merajalela dan menebar teror didunia. Adalah kelompok alkaedah yang dipimpin Osama binladen.

dengan alasan bahwa Osama binladen adalah aktor intelktual teroris dunia yang meruntuhkan gedung pencakar langit world trade centre, walaupun hingga kini belum dapat pembuktian,maka kota kabul di afganistan. kembali menjadi korban baru uji coba senjata canggih buatan terbaru amerika.

Dari waktu kewaktu negara adikuasa ini semakin bangga atas pretasinya mengukir sejarah suram pembunu terbesar, dan negara yang haus akan peperangan dan bangga dengan kemenangan walupun harus mengorbankan jutaan manusiah, termasuk mengorbankan warga negranya sendiri yang dipaksa mengikuti pertempuran.

Jika kita cermati pemberitaan media masa baik koran maupun melalui pemberitaan di televisi, ternyata pernyataan – pernyataan (ucapan) indah yang selalu dipublikasikan oleh presiden amerika serikat. sifatnya hanyalah sebuah kepalsuan yang manis diucapkan tetapi kenyataanya berbeda.

Buktinya negara yang konon katanya menentang pelanggaran HAM. Ternyata adalah negara pelanggar hak asasi manusia. contoh kecil terjadinya rasisme di negara itu sejak dahulu hingga detik ini, dimana banyak kebijakan parlamenya yang lebih condong memihak dan menguntungkan sikulit putih dibanding warganya yang berkulit hitam.

Demikian juga dengan slogan – slogan anti teroris yang selalu dipublikasikan lewat media. ternyata negara ini juga malah menciptakan dan menebar teror yang membuat sebagian besar manusia dibumi ini ketakutan.

Kamuflase tentunya adalah sebuah kebohongan yang selalu terlontar dari mulut orang – orang egois, dan seraka akan yang namanya kekuasaan serta haus sanjungan, atau lebih tepatnya manusia ambisiaus, seperti layaknya amerika serikat.

Namun tak dapat dipungkiri para pemimpin dan calon pemimpin dinegara ini, bahkan pemabuk dan pesina sekalipun tekadang tiba - tiba berubah bagaikan seorang uztad (berkamuflase) jika menginginkan sesuatau untuk sebuah ambisi

Kamis, 18 Oktober 2007

Realita hidup

Disuatu sore aku melintas di pantai losari makassar. Mataku tiba – tiba tertuju pada sekelompok anak muda yang lagi menikmati keindahan pantai losari di sore hari.

Seolah tanpa beban mereka bercanda dengan riangnya sesekali dibarengi dengan canda tawa, sementara yang lainya terlihat lagi asik memainkan telpon cellular yang ada digenggamanya.

Dari cara berpakaian serta deretan mobil mewah yang terparkir di dekat para anak muda ini, aku mengambil kesimpulan kalo mereka adalah anak gedongan istilah bagi orang serba berkecukupan alias orang kaya.

Hati kecilku bertanya!? apakah kelompok anak muda ini betul – betul menikmati keindahan panorama senja pantai losari, ataukah sekedar ngumpul – ngumpul hanya untuk memamerkan gaya dan penampilan, juga memperlihatkan kepada orang – orang bahwa mereka berada di komonitas borju.

Belum lagi fikiranku lepas dari kelompok anak muda tadi, tiba tiba pandangan mataku tertuju pada dua orang anak yang berjalan tanpa memakai alas kaki, dengan pakaian compang campig sambil menenteng karung entah berisi apah, namun kuyakin karung itu berisi barang rongsokan yang dipungutnya ditempat buangan sampah.

Aku tiba – tiba teringat akan tulisan – tulisan di buku marxsisme dimana buku tersebut mengajarkan kita untuk mendalami sebuah kebersamaan dan pemerataan hidup.
Mungkinkah jika ajaran – ajaran yang tertuang dalam buku marxisme itu diterapkan dalam hidup ini, tidak adalagi yang namanya perbedaan antara sikaya dengan simiskin.

Tidak adalagi kesombongan yang sering diperlihatkan oleh kaum borjuis, terhadap orang – orang yang tingkat kehidupan sosial dan ekonominya berada di bawa garis kemiskinan. serta tidak ada lagi pemicu terjadinya kecemburuan sosial.

Namun itulah kenyataan hidup atau tepatnya konsukuensi hidup dimana perbedaan itu selalu ada demikian halnya dengan status sosial dimana selalu saja ada yang namanya perbedaan.

Sepertihalnya cerita dongeng yang sering kubaca dan kudengar disaat aku masih kanak – kanak yang berkisah tentang perbedaan antara sikaya degan simiskin

Makassar 18 oktober 07

Selasa, 16 Oktober 2007

keyakinan akan sebuah perubahan

Oh... tuhan Kata yang sempat terucap dari bibir ini, disaat sepeda motor yang-ku kendarai melintas di jalan somba opu makassar.

Rasa sedih bercampur haru disertai belas kasihan timbul dalam diri ini, saat aku melihat seorang lelaki duduk di trotoar emperan toko, dengan raut muka lesuh.

Spontanitas aku mengerem sepeda motor, kuraih dompet yang berada di saku celana, kemudian tangan ini memberikan uang ke lelaki tadi. setelah mengambil uang pemberianku, sang lelaki lalu tersenyum dan mengucapkan rasa terima kasih.

Sambil mengendarai sepeda motor, aku berfikir inikah yang dikatakan sebuah keadilan, yang selama ini selalu kudengar dari mulut para politikus – politikus pembual.

Jika benar keadilan dan rasa kebersamaan itu ada, mengapa lelaki yang memiliki tubuh jauh dari kesempurnaan, masih tetap saja duduk di atas trotoar di malam hari, dengan tidak menghiraukan dinginya angin malam yang mengerogoti tubuh kusamnya, hanya karena satu tujuan, yaitu untuk mendapatkan uang dari rasa belas kasihan orang yang melintas di jalan tersebut.

Aku kembali teringat akan janji – janji dan bualan para elit politik, mana kala mereka mencoba menarik simpati dan membutuhkan dukungan suara dari masyarakat akar rumput. Puisi – puisi indah yang sering mereka nyanyikan ke masyarakat, yah… tentunya kata – kata khiasan yang tidak berubah dari waktu ke waktu, yang bunyinya jika nantinya saya terpilih. Maka saya akan tingkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak ada lagi yang namanya pengangguran, pendidikan dan berobat digeratiskan serta banyak lagi janji – janji bualan yang terlontar dari mulut para pembual.

Namun ternyata setelah tujuan para pembual itu terwujud, janji – janji yang dulunya terlontar dan tak jarang dibarengi dengan sumpah, terlupakan begitu saja, bahkan tak jarang pulah kecongkakanlah yang mereka perlihatkan, ataukah mungkin kebohongan, kecongkakan dan keserakahan telah menjadi tradisi manusia di zaman yang dikatakan reformasi ini.

Ataukah manusia sekarang telah mengabaikan akan kodratnya sebagai hamba Allah dan telah berani membohongi tuhanya sekalipun hanya untuk meraih sebuah tujuan. Oh... pengemis!Yakinlah akan keadilan tuhan, jika selama ini kehidupan dan profesi kalian yang sering dijadikan jualan serta dikorbankan untuk kepentingan politik, maka akan tiba saatnya politik itu akan berada di genggaman kalian.

Hidup ini tidak lebih dari sebuah perputaran roda, seperti pula halnya dengan langkah kaki yang selalu bergantian, maka janganlah pernah pesimis menjalani hidup karena perubahan itu akan selalu ada dan kemenangan itu pasti.

MAKASSAR 16 OKTOBER 07

Senin, 15 Oktober 2007

kesedihan dihari kemenangan

Hari kemenangan itulah hakiki dari merayakan lebaran idul fitri, dimana ummat muslim kembali kefitranya, dengan melaksanakan perintah allah yaitu berpuasa selama sebulan penuh, dengan menahan lapar, hawa nafsu serta membenahi diri dari segala kekurangan, yang tentunya menuntut kita untuk lebih bertaqwa kepada allah.

Entah mengapa dihari kemanangan ini kesedihan tiba - tiba datang, bersamaan hadirnya bayang - bayang seseorang yang pernah mendampingi perjalanan hidupku, serta teringatnya aku akan kenangan perjalanan indah yang pernah kujalani bersamanya
Kucoba untuk larut dengan canda tawa temanku-temanku, dengan harapan semoga saja kesedihan itu dapat hilang, namun bayangan dan kenangan masalalu itu takunjung jua pergi, entah mengapa kesedihan dalam hati ini, memaksa mataku meneteskan butiran air yang mengaliri pipiku. canda tawa dan suka duka yang telah kulalui bersama wanita yang telah pergi meninggalkanku, terus saja merasuki fikiranku.
Dipagi hari saat matahari muli menampak-kan bentuknya di bumi ini, seiring dengan mengumandangnya suara tagbir Allahu akbar… Allahu akbar…Allahu akbar…dari corong – corong masjid didekat rumahku, bertanda tibanya hari kemenangan bagi ummat muslim.
Aku mencoba bergegas dari tempat tidur berjalan menuju ke kamar mandi, namun kembali bayang – bayang masalalu itu hadir di fikiranku, dan membuat perasaan ini kembali larut dalam kesedihan
kucoba menghilangkan kesedihan itu dengan berserah diri ke maha pencipta, sampai akhirnya diriku menyadari akan yang namanya sebuah takdir. Kusadari bahwa sesuatu yang telah pergi meninggalkan kita untuk selama - lamanya, tentunya tak akan mungkin kembali lagi.
Yah... mungkin inilah sebuah konsekuensi hidup yang harus aku terimah, dimana manusia terkadang baru menyadari akan pentingnya kehadiran sesorang yang paling kita sayangi dan cintai, mana kala orang tersebut telah pergi meninggalkan kita
Walaupun pahit namun itulah kenyataan yang harus kujalani, aku berharap semoga saja rahasia tuhan dari kejadian pahit yang terjadi pada diriku, adalah sebuah rahasia yang akan terwujud dengan sebuah keindahan.
Seperti dalam firman Allah. Tidak ada satupun yang kekal dan abadi di dunia ini, kecuali perbuatan amal ibadah kita kepada allah sang pencipta langit dan bumi.
Semoga saja dengan kumandan takbir allahu akbar….allahu akbar…allahu akbar Yang bergemah di hari yang fitri ini, bertanda tibanya hari kemenangan itu. dapat membuat diriku dan kita semua lebih bertaqwa, dan tidak lebih mengutamakan kepentingan dunia serta lebih mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada allah subhana wataala

Makassar 14 oktober 07