Jumat, 05 Oktober 2007

Sunset

Keindahan suatu obyek atau benda tak akan nampak dalam pandangan mata kita, jika hati kita buta akan yang namanya keindahan.

Manusia yang tidak memahami akan indahnnya anugerah sang pencipta, tak mungkin pernah merasakan nikmatnya keindahan itu. Kusukuri pemberian Ilahi atas rasa keindahan yang tertanam dalam diriku, sehingga aku paling suka akan yang namanya keindahan.

Kenapa aku senang dengan keindahan?
Keindahan tak mungkin lepas dari diriku, karena keindahan itulah yang selama ini membuat perasaan dan hati ini selalu enjoi.


Manakala perasaanku lagi sumpek menghadapi berbagai permasalahan dan problema hidup, maka hanya ada satu solusi di mana aku sering mencari ketenangan, yaitu mendatangi tempat yang indah – indah, dimana pandangan dan perasaan ini dapat melihat serta merasakan keindahan alam semesta ciptaan tuhan



Kamis, 04 Oktober 2007

Semua untuk Satu

Kantor. Yah… aku juga mempunyai kantor yang hampir setiap harinya kudatangi, kutempati beraktifitas serta kujadikan tempat berbagi rasa dengan teman – temanku. Di kantorku inilah setiap harinya kubertemu dengan manusia – manusia dengan berbagai macam karakter yang berbeda beda.

Yah… dikantor ini pula terkadang aku menemukan kebahagiaan, namun tak jarang pula dalam menghabiskan tujuh hari kerja selama satu minggu, kebahagiaan itu tidak kujumpai.

Seperti halnya di saat aku menemukan perbedaan persepsi dan pandangan dengan teman – sekantorku, namun semakin seringnya terjadi perbedaan, semakin membuatku sadar akan indahnya perbedaan dalam satu naungan alias kantor.

Rasa ego, saling bersaing dan kecemburuan serta ketersinggungan, terkadang terjadi antara aku dan teman sekantorku, namun semua itu dapat selesai dengan adanya saling memahami dan memiliki serta rasa kebersamaan.

Waktu demi waktu, hari demi hari dan tak terasa hitungan tahun telah kulewati bersama teman – teman sekantorku, sebagian temanku bahkan telah beranjak meninggalkan kantorku ini untuk selama – lamanya, namun aku merasa mereka masih saja ada walaupun hanya kenangan akan guyonan yang sering teringat dalam kenanganku bersama temanku yang telah meninggalkan kantorku ini

Dikantorku ini-lah ku tanamkan rasa saling memiliki dengan motto yang tertanam dalam jiwaku yaitu semua untuk satu.

HAJI BAU 2A. MAKASSAR. 03 OKTOBER 2007.

Selasa, 02 Oktober 2007

KURSI

Kursi benda mati yang tak bisa lepas dari aktifitas manusia. Sebuah kursi yang kadang sudah usang dan lapuk sekalipun, terkadang masih dibutuhkan orang. Demikian halnya harga satu buah kursi. Yah, terkadang murah, namun kerap juga harganya sangat mahal.

Begitu berartinya kursi bagi manusia, membuat sebagian orang rela mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan kursi. Bahkan kursi juga bisa membuat orang lupa diri, seraka, serta rela menggunakan cara – cara curang, hanya untuk mendapatkan yang namanya kursi.

Jika para elit kita sering bertengkar hanya karena memperebutan kursi, lain halnya dengan masyarakat kalangan bawah, mereka juga terkadang bersaing untuk menduduki kursi, tetapi untuk mendapatkan sebuah kursi kaum marginal lebih menggunakan cara - cara sportif.

hal ini dapat kita lihat dalam permainan kartu domino, dimana pemain yang ingin menduduki kursi, terlebih dulu bersaing memenangkan permainan kartu, tanpa menggunakan cara - cara curang. yang tentunya dengan berbesar hati menerima kekalahan walaupun kenyataanya harus berdiri, dan memberikan kesempatan duduk bagi yang menang.

Ya, semoga saja para elit politik kita dapat belajar banyak dari para pemain kartu domino, yang lebih mengutamakan kebersamaan dari pada ambisi kemenagan, serta mau menerima kekalahan dengan lapang dada.

Akankah para elit kita yang akan bertarung dalam pilkada Sulawesi Selatan, pada tanggal 5 november 2007 mendatang, akan mengorbankan mesyarakat yang mereka klaim sebagai massa pendukung setia, untuk berbuat hal tidak terpuji hanya karena gagal mendapatkan kursi.

Semoga saja kursi empuk yang di perebutkan ke tiga elit sul-sel, tidak akan menjadi kursi panas yang setiap saat dapat berubah menjadi kursi tragedi berdarah.

Makassar, jelang Pilgub Sulsel 2007

Minggu, 30 September 2007

Obrolan Waroeng Kopi

Oposisi yahh… sebuah kata yang mungkin selama ini dijadikan sebuah kebanggaan bagi sebagian orang yang memiliki jiwa lepas, alias manusiah yang tidak suka yang namanya kecurangan

Aku dan teman lamaku
Suatu ketika saat aku lagi nyantai sambil menikmati segelas kopi di salah satu waroeng kopi di kota makassar, tiba – tiba seorang teman yang lama baru kujumpai lagi, menyapaku

“Hai… Ceng..!! ” sapanya, panggilan singkatku yang sering terlontar dari mulutnya kala ia memanggilku.
Dengan santainya kubalas sapaan teman – ku, dengan kebiasaan-ku saat bertemu dengan siapa-pun, santai dengan dibarengi canda alias guyonan sedikit mengelitik.
“Ehh… bapak keliatan makin sejahtera aja dan perut makin gendut aja…”
Sang teman lalu menjawab,
“Ahhh… itu cuman pandanganmun saja kawan” Ujarnya sedikit menangkis guyonanku
“Iyalah… kenyataannya begitulah kawan” Kembali kumencoba menyanjungnya
“Kamu bisa aja Ceng….”
“De tolong kopinya satu gelas buat teman – ku ini.” Dengan nada sedikit keras aku teriak ke pelayan, “ tolong kopinya yang tipis yah…” Temanku menyambung nya
“kertas kali ya pake tipis?” aku kembali menggodanya. Lalu dengan spontan kami berdua pun tertawa lepas. Obrolan kami kemudian berlanjut…
“Yah… biasalah yang tipis tipis itu kan biasanya enak Ceng!!..”
“Oo iya ceng orang – orang di di daerah pada sering nayakan kamu, katanya mereka lama tak pernah lagi melihat wartawan yang santai tapi punya prinsip dan nga-mau di taktis” Temanku kembali membuka pembicaraan, mimiknya terlihat sedikit serius.
“Oya..??..” jawabku santai.
“Kalau begitu saya jadi momok dong buat mereka, selama saya bertugas di daerah mereka, padahal selama aku bertugas disana, aku tidak pernah merasa merugikan mereka dan lagian aku orangnya santai aja ko dalam melaksanakan tugas sebagai jurnalis
Emangnya apa saja yang mereka cerita?”
“Kamu ingat tidak liputan tentang illegal loging dan banjir di Luwu Utara?” Ujarnya
“Iya masih ingat ko!!, Bapak itu sering bangga – banggain kamu-loh, dia sering cerita kalau dia pernah bertemu dengan salah seorang wartawan dari Metro TV, saat itu katanya kamu ditawari naik di mobilnya, dan kamu menolak”
“Oh… iya memang pernah tapi saya tidak ingat nama bapak itu..”
“Waktu itu saat saya lagi liputan penggundulan hutan (illegal loging), dengan menempuh medan yang sangat berat karena melalui hutan belantara dan bebukitan
Bapak itu menawari naik keatas mobilnya, tetapi saya menolak dan saya lebih memilih naik motor” Jelasku, sambil mencoba mengingat-ingat peristiwa waktu itu.
“Tau tidak kenapa saya lebih memilih naik motor?? karena selain saya lebih leluasa saat menjalankan tuga peliputan, insting saya juga mengatakan kalo bapak ini adalah bagian dari pelaku illegal loging yang merusak kelestarian hutan di luwu utara, yang mengakibatkan seringnya terjadi bencana banjir, serta membuat sengsara ratusan warga yang bermukim di bagian bantaran sungai.”

“Nah itulah alasan-ku tidak mau menerimah tawaran tumpangan ketika itu”
Temanku hanya terdiam mendengar penjelasanku panjang lebar.
“Demikian juga sepreti saat kau menawarkan fasilitas kendaraan untuk meliput ke lokasi banjir, saya juga menolak tumpangan dengan berbagai alasan.

“Yah… karena setahu saya, kamu-kan kerjanya di kantor pemerintahan, dan sepengetahuan saya banjir ini terjadi diakibatkan tidak becusanya aparat pemerintahan di daerah bapak, iya-kan?” aku sengaja ingin mendesaknya dengan pernyataan seperti itu. Temanku ini sekali lagi hanya diam dan mendengar penjelasanku.
“Nah makanya waktu itu saya lebih memilih naik motor, walaupun jaraknya jauh dan harus melalui medan yang berat.

“Pastilah jika saya ikut numpang di kendaraan bapak yang nota bene adalah milik pemerintah, otomatis akan menjadi beban buat saya jika nantinya saya harus membuat berita yang akan memojokan pemerintah, sesuai realita yang terjadi dilapangan..”

“Ceng – ceng… “ akhirnya temanku angkat bicara “ kamu dari duluh orangnya tidak berubah…”
“Tapi saya salut-loh dengan gayamu itu kocak tapi serius saat lagi menjalankan tugas
Kamu pernah berpikir tidak untuk merubah hidup – kamu?”
“Maksunya? “ Saya balik bertanya.

“Sejak saya mengenal – kamu saat liputan banjir itu, perasaan kamu naik motor terus, bahkan biasanya hari ini saya liat kamu di masamba, eh besoknya saya lihat lagi liputan kamu di televisi liputan dari daerah lain serti di Luwu Timur, Palopo, Luwu dan bahkan terkadang liputan dari Enrekang dan Toraja…..

“Kamuh sangat tangguh yaa bawa motor, padah antara satu kabupaten dengan kabupaten lainya, jarak tempuh-nya sampai ratusan kilo…”

“Yahh… suda komitmen saya dalam menjalankan amanah dari kantor dimana tempat saya bergantung akan yang namanya hidup. “Tau tidak alasanya kenapa saya tidak mau menggunakan fasilitas dari orang – orang pemerintahan yang menawari saya, yah karena peraturan kantor tempat-ku bekerja mengharamkan itu,” saya kembali mencoba memberikan sedikit penjelasan tentang sikap-sikap hidupku.

“Otomatis saya harus menjalankan aturan tersebut, lagian juga pekerjaan yang saya lakoni ini, saya tidak menganggap itu adalah pekerjaan yang harus membebani perasaanku.
“Amanah dalam pekerjaan ini saya jadikan sebuah hobi, dengan mengendarai motor menempuh jarak sampai ratusan kilo. Yah liputan sekaligus menikmati kampung orang."

Begitupun dengan pemberian alias amplop yang biasanya kau tawari itu. Kenapa saya tidak mau menerimah pemberian itu dengan berbagai alasan, bahkan kamu biasanya menggunakan segala macam cara agar saya menerima pemberian itu, yah, karena perusahaan tempat saya bekerja, juga melarang itu.
"Jadi disini bukan permasalahan idealis atau oposisi yang seperti yang orang – orang katakana di daerah Bos”
Beberapa saat lamanya obrolan lepas namun serius ini berlangsung di warung kopi tersebut. Perbincangan antara kami ini kemudian berakhir setelah temanku buru-buru pamit untuk sebuah urusan.

Setelah temanku tadi beranjak meninggalkan tempat duduknya, saya sempat berfikir, ternyata kita memang perlu menjaga amanah yang diberikan kepada kita, agar manusia – manusia pembuat kesalahan tetap menghargai kita, bahkan merindukan kita saat kita meninggalkan mereka.

Jujur saya akui, selama ini saya tidak pernah menganggap diri saya idealis dan berada di garis oposisi dalam menjalankan tugas jurnalis. Tetapi apa yang saya terapkan dalam pekerjaanku ini, semata-mata bekerja secara profesional, serta menjalankan amanah yang diberikan perusahaan tempatku bekerja, dengan satu prinsip yang masih kupertahankan hingga kini, yaitu menjaga nama baik perusahaanku. Bagiku kita semua memang mebutuhkan uang untuk melanjutkan kehidupan, tapi uang bukanlah segala-galanya, masih ada hal lain yang jauh lebih berharga, yaitu bagaimana menjaga sebuah amanah seperti jutaan manusia yang berharap akan adanya perubahan di negeri ini dari kerja-kerja para jurnalis. Saya tidak menganggap bahwa saya adalah seorang idealis dan juga sekaligus oposisi, namun saya hanya berusaha bekerja secara professional.

Makassar, 30 September 2007 – 21:35