Desa bungllo. salah satu perkampungan yang letaknya berada diatas pegunungan di kecamatan bastem. kabupaten luwu. sulawesi selatan. Untuk mencapai desa tersebut kita harus menelusuri medan yang sangat berat, dengan melewati jurang yang sangat terjal yang intinya desa tersebut sangatlah jauh dari yang namanya peradaban.
Namun Keramahan penduduk desa serta ketenagan kampung ini, tentunya membuat aku dan beberapa orang teman sesama jurnalis lokal maupun nasional yang datang mengunjungi kampung ini, menjadi kagum.
Penduduk yang bermukim di perkampungan ini jumlahnya-pun tidaklah banyak, namun mereka sangatlah mengutamakan tata krama dalam menyambut setiap orang yang datang berkunjung kekampung ini.
Dikampung inilah aku dan teman - temanku melihat para siswa siswi sekolah dasar yang berada di perkampungan ini. pergi bersekolah tanpa menggunakan alas kaki. namun itu bukanlah menjadi soal bagi mereka yang penting mereka dapat belajar
Dikampung ini pulahlah kumenyaksikan pemandangan yang begitu indah serta sejuknya udara pegunungan tanpa polusi dan jauh dari kebisingan kota.
Yang kami jumpai di perkampungan ini hanyalah suara kicauan burung serta berbagai bebunyian yang kami dengar dari balik rindangnya dedaunan pepohonan.
Aku suatu siang aku bersama rekan rekan sesama jurnalis dan pengurus elsim kota makassar. mencoba bercengkerama dengan penduduk kampung dimana mereka terlihat senang saat diabadikan dengan kamera poket.
Begitupun dengan para siswa sekolah dasar. mereka terlihat senang saat aku dan beberap orang rekanku mencoba bergabung, alis sok akrab dengan mereka sambil bermain bola dihalaman gedung sekolah, yang masih berdinding kayu serta berlantaikan tanah, dimana meja dan korsinya terlihat berantakan.
Keceriaan para siswa siswi sekolah dasar bongllo, sangat terlihat dari raut wajah mereka saat kami mengabadikan lewat kamera dan mereka seolah berkata fotoka lagi.
Walaupun sebagian dari murid itu ada yang masih mengeluarkan ingus dan raut muka awut-awutan layaknya anak kampung, namun mereka seolah tidak mau tahu tentang itu. bagi mereka gaya bukanlah hal yang terpenting, seperti halnya anak-anak yang berada di perkotaan yang lebih mengutamakan gaya dibanding otak
Kembali akau teringat akan masa kecilku dimana akupun pernah merasakan hidup ditengah perkampungan yang dikatakan oleh orang modern, kampung jauh dari peradaban. namun itulah realita yang mereka jalani, seperti halnya saat aku kecil dulunya juga aku jalani
Aku sempat merasakan perkataan hati kecil dari sebagian anak-anak itu, yang tentunya mereka juga ingin seperti kami-kami yang datang dari perkotaan dengan sok modern. namun tentunya kami bukanlah bagian orang modern yang seperti mereka pikirkan
Kami mendatangi perkampungan mereka tentunya mempunyai misi yang nantinya mengajarkan mereka untuk menghargai yang namanya hutan, menghindari ilegal loging, serta menolak yang namanya pertambangan yang rencananya akan berdiri di desa mereka.
Dimana nantinya jika pertambangan emas itu akan terwujud, maka tentunya mereka jualah yang menjadi korban dari pengerusakan hutan, dan tidak menutup kemungkinan nantinya desa mereka akan hilang tergusur oleh para perusahaan pertambangan. hanya untuk kepentingan sebagian orang atau pejabat saja
Bastem akan selalu kukenang dalam perjalanan jurnalisku
janganlah pernah mau merusak alam, karena alam ini diciptakan untuk menjaga keseimabangan serta membuatmu selalu mengerti akan kebesaran sang pencipta
1 komentar:
Thank's udah cerita sedikit tentang kampung saya....
Hutan di Bastem harus segera di selamatkan.
Posting Komentar