Berjalan dalam kegelapan menelusuri terjalanya medan serta sunyinya hutan belantara yang ku lalui bersama teman-teman sesama jurnalis yang bertugas dikota palopo.Desa bongllo yang letaknya berada di kecamatan bastem kabupaten luwu. sulawesi selatan. bereda di ketinggian sekitar 2000 kaki dari atas permukaan laut di kota palopo. aku bersama teman-temanku mencoba menembus kegelapan malam,dengan menggunakan sepeda motor.
Tanpa menegnal rasa takut, kami ber-empat berjalan dikegelapan malam. sekitar dua jam kemudian atau sekitar jam dua belas dini hari akhirnya, kamipun tiba di suatu perkampungan yang berada di tengah hutan belantara diatas pegunungan.
suara gonggongan anjing dan suara berbagai macam binatang yang muncul dari balik pepohonan, seolah menyambut kedatangan kami di perkampungan tersebut.
Kami pun mencoba teriak mengguanakan bahasa kampung dengan menyebut nama ambe" panggilan bagi orang tua di kampung ini. berselang berapa lama kemudian terdengar sahutan balasan dari dalam rumah panggung yang terlihat gelap, sang lelekai setengah baya keluar sambil membawa senter dan mendatangi kami. kami pun bertanya kepada lelaki tersebut dan dengan ramahnya sang lelaki mengantarkan kami ke rumah yang kami maksud.
"alkohol menjadi penghangat dinginya malam"
Dinginya udara pegunungan dimalam hari, membuat kami setengah menggigil dan harus menyalakan perapian, untuk menghangatkan tubuh kami yang tidak terbiasa dengan udara dingin.
namun panasnya perapian yang kami buat tak dapat jua menghangatkan tubuh kami dan akhirnya aku mengambil tiga botol minuman sejenis vodka berkadar alkohol 40%. dari dalam tas yang telah kusiapkan bersama teman-temanku dari kota palopo.
lelaki setengah baya yang mengantar kami kerumah ini, masih menemani kami. sambil bercerita dengan sedikit menggunakan bahasa indonesia bercampur bahasa kampung, kami pun menawarkan minuman ini, ke sang lelaki tersebut.
dengan malu-malu ambe" menerima tawaran yang kami berikan, dengan wajah sedikit berkerut ambe tetap saja meminum hingga saatnya ambe-pun berkata, bukan inikah yang dibilang supertus ana"?
salah seorang diantara kami mengatakan bukan ambe". dengan sedikit rasa penasaran sang ambe mencoba menumpahkan sedikit minuman tersebut ketanah, lalu dinyalakannya korek gas dan membakar tanah yang telah dia sirami dengan minuman tersebut. hasilnyapun diluar dugaan sang ambe" tanah yang telah disiraminya itu tiba-tiba menyala dan api-nyapun berwarnah biru.
setelah melihat kejadian itu, sang lelaki setengah baya lalu berkata tae"dukamo aku ana" lalu gelas ditanganya diletakan langgsung ditana, kemudian sang ambe" meninggalkan kami.
Dengan tertawa terbahak-bahak kamipun berempat menghabiskan minuman berkadar alkohol 40% itu, hingga akhirnya dinginya udara pegunungan tak lagi kami rasakan.
Bersamaan munculnya matahari pagi, kami terbangun dari tidur, cerita tentang sang lelaki tua alias ambe dan siapi biru, menjadi bahan tertawaan kami hingga akhirnya kami meninggalkan kampung yang penuh dengan ketenangan serta kedamaiaan
bastem si api biru ambe"
keluguan itu terkadang dapat membuat kita atau orang lain tertawa terbahak-bahak, namun tidak semua keluguan itu dapat ditertawakan. karena keluguan itu adalah hal yang alami
tulisan perjalanan jurnalist seri 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar